Anugerah Terindah

RSS

Senin, 09 Mei 2011

Kesadaran

                                                                     Oleh : Abdul Rojib
Kesadaran merupakan suatu yang dimiliki oleh manusia dan tidak ada pada ciptaan Tuhan yang lain. Kesadara yang dimiliki oleh manusia merupakan bentuk unik dimana ia dapat menempatkan diri manusia sesuai dengan yang diyakininya. Refleksi merupakan bentuk dari penggungkapan kesadaran, dimana ia dapat memberikan atau bertahan dalam situasi dan kondisi tertentu dalam lingkungan. Setiap teori yang dihasilkan oleh seorang merupakan refleksi tetang realitas dan manusia. Manusia dalam melahirkan cinta untuk semua merupakan jawaban untuk eksistensi manusia yang membutuhkan rasa dan sayang dari yang lain. Begitupula, tetang kesadaran merupakan sangat berkaitan dengan manusia bahkan yang membedakan manusia dengan binatang. Kesadaran merupakan unsur dalam manusia dalam memahami realitas dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi terhadap  realitas.
           Sebelumnya perlu kita ketahui dulu bahwa perkembangan kesadaran seseorang meningkat dari hanya memahami yang kelihatan (fisik) hingga memahami yang tak kelihatan (non fisik). Kesadaran yang paling rendah adalah kesadaran inderawi. Selanjutnya yang lebih tinggi adalah kesadaran rasional, lalu kesadaran spiritual, dan paling tinggi adalah kesadaran tauhid.
1. Kesadaran inderawi
Kesadaran inderawi adalah kesadaran yang sifatnya dipicu oleh panca indera. Melalui kesadaran ini maka kita bisa melihat matahari terbit dari sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Kesimpulan yang diambil dari kesadaran inderawi ini terbatas  pada kemampuan  indera  kita.
2. Kesadaran rasional
          Ternyata setelah indera kita tak mampu lagi menjelaskan, manusia bisa naik ke tingkat kesadaran berikutnya yaitu kesadaran rasional. Kesadaran rasional ini menggunakan pikiran untuk menjangkau sesuatu yang tak terjangkau indera. Misalnya, secara inderawi kita hanya mampu melihat bahwa matahari terbit dari timur dan terbenam di barat. Dengan menggunakan akal, dibantu dengan alat-alat yang lebih canggih, manusia kemudian dapat membuat kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bumi berotasi ke arah timur, dan bahkan bumi mengelilingi matahari.                              
Dengan kemampuan pikiran rasional pula manusia yakin bahwa bumi tidak datar, tapi bulat. Setelah ditemukannya teleskop yang mampu melihat benda langit (planet lain), manusia semakin yakin bahwa bumi itu bulat, bukan datar seperti perkiraan sebelumnya. Kita dapat melihat bahwa dengan kemampuan rasional manusia dapat mengambil kesimpulan jauh di luar apa yang dapat sicapai dengan indera. Ibaratnya kesadaran inderawi menggunakan mata fisik, kesadaran rasional menggunakan mata pikiran. Pada kesadaran rasional inilah muncul pengetahuan  ilmiah.
3. Kesadaran Spiritual
 Ketika manusia bahkan dengan pikiran rasionalnya tak mampu lagi membuat penjelasan, maka dia akan naik ke tingkat kesadaran spiritual. Kini para ahli telah mengembangkan teori big bang untuk menjelaskan terjadinya alam semesta. Teleskop luar angkasa Hubble telah memeberikan bukti betapa dahsyat dan luasnya alam semesta. Namun kesadaran rasio manusia tak akan mampu menjelaskan ada apa di luar tepi-tepi batas semesta, ada apa sedetik sebelum big bang terjadi, dan apa tujuannya terjadi alam yang luas dengan bumi yang setitik debu di dalamnya ini. Semua kelelahan kesadaran rasional itu membawa manusia ke tingkat kesadaran spiritual, yaitu menyadari adanya sesuatu yang maha dahsyat di balik semua yang tak terjangkau rasio itu. Inilah kesadaran yang mengakui keberadaan Tuhan. Di sinilah muncul pengetahuan nurani atau suara hati.
4. Kesadaran Tauhid
 Kesadaran spiritual belum tentu menghasilkan kesimpulan yang benar. Pada zaman purba, manusia menyembah berhala, kekuatan alam seperti gunung dan matahari, atau kekuatan roh seperti jin. Semakin moderen mulailah muncul kepercayaan atas dewa-dewa, yaitu bahwa pada setiap benda/makhluk ada tuhannya masing-masing. Ada tuhan pohon, angin, monyet, tikus, dan sebagainya. Memang untuk level kesadaran spiritual ini manusia membutuhkan petunjuk wahyu, suatu yang di luar akal manusia, bahkan di luar nurani. Kecerdasan spiritual yang berdasarkan hati nurani masih bisa menyesatkan, misalnya pada kebudayaan Aztek manusia dikorbankan kepada dewa matahari melalui keyakinan yang didasarkan suara hati. Pada tingkatan tertentu, suara hati tak lagi mampu. Misalnya, mengapa kita tega menyembelih kambing? Bukankah suara hati kita miris dan menganggapnya kekejaman? Alasan kuat kita yakin bahwa menyembelih kambing itu sesuatu yang benar (walaupun suara hati memprotesnya) adalah karena tuntunan agama wahyu. Wahyu mengatakan bahwa menyembelih kambing atas nama Allah adalah sah, sedangkan memenggalnya (bukan menyembelih) atau mengatasnamakan berhala adalah sesuatu yang haram.
Pengetahuan pada level kesadaran Tauhid ini bukan sekedar pengetahuan yang didasarkan pada kesadaran spiritual, namun lebih tinggi lagi karena menjawab persoalan yang terus tak terjawab oleh kesadaran spiritual. Misalnya, apakah tuhan itu banyak? Berapa banyak? Apa sih yang diinginkan tuhan? Mengapa sih manusia diciptakan? Kemana sih kita setelah mati? Semuanya itu dijawab melalui wahyu yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul.
KETIDAKSADARAN
Ketidaksadaran memiliki 2 lingkaran : ketiaksadaran pribadi dan kolektif.
1. Ketidaksadaran Pribadi
Ketidaksadaran pribadi meliputi ingatan dan hal-hal yang tertekan. Ketidaksadaran pribadi berisi komplek (konstelasi) perasaan, pikiran, persepsi, ingatan yang terdapat dalam ketidaksadaran pribadi. Kompleks memiliki inti yang bertindak seperti magnet menarik berbagai pengalaman ke arahnya.
2. Ketidaksadaran Kolektif
Bila kita cermati, sering kita melihat sebuah peristiwa menarik! Peristiwa itu tentu akan menggundang kehadiran masa (banyak orang), baik secara harfiah berupa kehadiran fisik orang, maupun kehadiran masa yang datang hanya melalui komentar. Peristiwa menarik tersebut terlepas dari apakah peristiwa tersebut positif atau negatif tak terbedakan, hanya saja  bila dicermati lebih lanjut peristiwa buruk/negatif/kontroversialah yang menggundang kehadiran partisipan. Mereka masuk dan terlibat dalam suasana atau peristiwa yang berhasil menarik empati diri kita masuk ke dalam suasana (lebih sering terjadi di peristiwa yang mengandung  situasi  absurd) dan selanjutnya peristiwa ini akan berakhir secara perlahan dengan sendirinya, sayang biasanya tanpa solusi.
Manusia berkumpul, berkerumun, memusatkan perhatian (yaitu prristiwa menarik), selanjutnya tenggelam dalam suasana yang terciptakan. Selanjutnya, terkadang banyak orang secara tidak sadar terlibatkan dirinya dalam kejadian yang tak terkirakan. Kaum reaktif akan menanggapi, merespon, mereaksi menurut cara pandang masing-masing tetapi dalam satu kerangka menyerang pihak yang tersalahkan, apalagi pihak tersalahkan yang tidak mungkin mengelak, membela diri, bahkan dalam kekalahan mutlak sekalipun (tak perduli pihak tersalahkan telah mengakui dan meminta maaf). Awam tidak menarik diri, tetapi justru semakin menghujani dengan berbagai reaksi (sering menjadi merusak (vandalisme, menyerang!). Pada situasi ini kadang muncul pemimpin atau sekedar penggerak yang tak bertanggung jawab! Mungkinkah  mereka secara bersama-sama terjebak dalam ketidaksadaran kolektif (Unconcicious). Dalam dinamika kelompok, yaitu proses menjadinya kelompok memungkinkan proses ketidaksadaran kolektif itu terjadi. Bila dapat muncul pemimpin kharismatis positif, maka peristiwa ketidaksadaran kolektif ini dapat teredakan lebih cepat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar