Anugerah Terindah

RSS
Tampilkan postingan dengan label Pengantar Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengantar Psikologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Mei 2011

IQ

Kecerdasan Intelektual (Intelligence Quotient)

          Arti Kecerdasan Intelektual (Intelligence Quotiet/ IQ) sedikit menjabarkan mengenai kecerdasan yang dimiliki oleh manusia, yaitu Intelligence Quotient atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Kecerdasan Intelektual.
Intelligence Quotient adalah potensial seseorang untuk mempelajari sesuatu dengan menggunakan alat-alat berfikir. Digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan seperti menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berfikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa dan belajar.  Kecerdasan ini erat kaitannya dengan kemampuan Kognitif (penalaran) yang dimiliki oleh individu. Untuk mengetahui IQ tersebut, terhadap seseorang harus dilakukan tes Inteligensi dan dari hasil test tersebut bisa terlihat gambaran “tingkatan intelgensi” orang tersebut yang hasilnya disebut dengan IQ (Intelligence Quotient) .
Kecerdasan Ini terletak di Otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan seseorang kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi dan memiliki daya kreasi serta inovasi (pembaharuan) atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologi dengan “What I Think” (apa yang saya pikirkan).
Sayyed Hossein Nasr menyebut akal sebagai proyeksi atau cermin dari hati (qalb), tempat keyakinan dan kepercayaan manusia. Akal bukan hanya instrument untuk mengetahui, melainkan juga sebagai wadah bagi "penyatuan" Tuhan dan manusia.
Ibnu Sina dan Alkindi maupun hierarki ilmu dari Al-Farabi dalam Teori Akal Aktif-nya menjelaskan bahwa dalam diri manusia, akal bersifat potent yang kemudian mewujud dalam bentuk jiwa  (spirit).
Menurut Rhenis Meister Echart ; "Di dalam jiwa seseorang terdapat sesuatu yang tidak diciptakan dan tidak mungkin dibentuk (oleh manusia). Sesuatu itu adalah intellect.

Struktur Kecerdasan
Kecerdasan dapat dibagi dua yaitu kecerdasan umum biasa disebut sebagai faktor maupun kecerdasan spesifik. Akan tetapi pada dasarnya kecerdasan dapat dipilah-pilah. Berikut ini pembagian spesifikasi kecerdasan menurut L.L. Thurstone:
• Pemahaman dan kemampuan  verbal
• Angka dan  hitungan
• Kemampuan   visual
• Daya ingat
•  Penalaran
• Kecepatan   perseptual
            Skala Wechsler yang umum dipergunakan untuk mendapatkan taraf kecerdasan membagi kecerdasan menjadi dua kelompok besar yaitu kemampuan kecerdasan verbal (VIQ) dan kemampuan kecerdasan tampilan      (PIQ).

Faktor  Yang  Mempengaruhi Kecerdasan
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan,   yaitu:
•  Biologis
•  Lingkungan
•  Budaya
•  Bahasa
• Masalah  etika
Pengukuran Taraf  Kecerdasan
Salah satu uji kecerdasan yang diterima luas ialah berdasarkan pada uji psikometrik atau IQ. Pengukuran kecerdasan dilakukan dengan menggunakan tes tertulis atau tes tampilan (performance test) atau saat ini berkembang pengukuran dengan alat bantu komputer. Alat uji kecerdasan yang biasa di pergunakan adalah      :
• Stanford-Binnet intelligence   scale
•Wechsler Scales yang terbagi menjadi beberapa turunan alat uji seperti :
  - WB       (untuk  dewasa)
  - WAIS   (untuk dewasa versi lebih  baru)
  - WISC   (untuk anak usia   sekolah)
  - WPPSI (untuk anak pra    sekolah)
•  IST
• TIKI (alat uji kecerdasan khas  Indonesia)
•  FRT
• PM-60, PM Advance
• Intelligence Quotient

Kesadaran

                                                                     Oleh : Abdul Rojib
Kesadaran merupakan suatu yang dimiliki oleh manusia dan tidak ada pada ciptaan Tuhan yang lain. Kesadara yang dimiliki oleh manusia merupakan bentuk unik dimana ia dapat menempatkan diri manusia sesuai dengan yang diyakininya. Refleksi merupakan bentuk dari penggungkapan kesadaran, dimana ia dapat memberikan atau bertahan dalam situasi dan kondisi tertentu dalam lingkungan. Setiap teori yang dihasilkan oleh seorang merupakan refleksi tetang realitas dan manusia. Manusia dalam melahirkan cinta untuk semua merupakan jawaban untuk eksistensi manusia yang membutuhkan rasa dan sayang dari yang lain. Begitupula, tetang kesadaran merupakan sangat berkaitan dengan manusia bahkan yang membedakan manusia dengan binatang. Kesadaran merupakan unsur dalam manusia dalam memahami realitas dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi terhadap  realitas.
           Sebelumnya perlu kita ketahui dulu bahwa perkembangan kesadaran seseorang meningkat dari hanya memahami yang kelihatan (fisik) hingga memahami yang tak kelihatan (non fisik). Kesadaran yang paling rendah adalah kesadaran inderawi. Selanjutnya yang lebih tinggi adalah kesadaran rasional, lalu kesadaran spiritual, dan paling tinggi adalah kesadaran tauhid.
1. Kesadaran inderawi
Kesadaran inderawi adalah kesadaran yang sifatnya dipicu oleh panca indera. Melalui kesadaran ini maka kita bisa melihat matahari terbit dari sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Kesimpulan yang diambil dari kesadaran inderawi ini terbatas  pada kemampuan  indera  kita.
2. Kesadaran rasional
          Ternyata setelah indera kita tak mampu lagi menjelaskan, manusia bisa naik ke tingkat kesadaran berikutnya yaitu kesadaran rasional. Kesadaran rasional ini menggunakan pikiran untuk menjangkau sesuatu yang tak terjangkau indera. Misalnya, secara inderawi kita hanya mampu melihat bahwa matahari terbit dari timur dan terbenam di barat. Dengan menggunakan akal, dibantu dengan alat-alat yang lebih canggih, manusia kemudian dapat membuat kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bumi berotasi ke arah timur, dan bahkan bumi mengelilingi matahari.                              
Dengan kemampuan pikiran rasional pula manusia yakin bahwa bumi tidak datar, tapi bulat. Setelah ditemukannya teleskop yang mampu melihat benda langit (planet lain), manusia semakin yakin bahwa bumi itu bulat, bukan datar seperti perkiraan sebelumnya. Kita dapat melihat bahwa dengan kemampuan rasional manusia dapat mengambil kesimpulan jauh di luar apa yang dapat sicapai dengan indera. Ibaratnya kesadaran inderawi menggunakan mata fisik, kesadaran rasional menggunakan mata pikiran. Pada kesadaran rasional inilah muncul pengetahuan  ilmiah.
3. Kesadaran Spiritual
 Ketika manusia bahkan dengan pikiran rasionalnya tak mampu lagi membuat penjelasan, maka dia akan naik ke tingkat kesadaran spiritual. Kini para ahli telah mengembangkan teori big bang untuk menjelaskan terjadinya alam semesta. Teleskop luar angkasa Hubble telah memeberikan bukti betapa dahsyat dan luasnya alam semesta. Namun kesadaran rasio manusia tak akan mampu menjelaskan ada apa di luar tepi-tepi batas semesta, ada apa sedetik sebelum big bang terjadi, dan apa tujuannya terjadi alam yang luas dengan bumi yang setitik debu di dalamnya ini. Semua kelelahan kesadaran rasional itu membawa manusia ke tingkat kesadaran spiritual, yaitu menyadari adanya sesuatu yang maha dahsyat di balik semua yang tak terjangkau rasio itu. Inilah kesadaran yang mengakui keberadaan Tuhan. Di sinilah muncul pengetahuan nurani atau suara hati.
4. Kesadaran Tauhid
 Kesadaran spiritual belum tentu menghasilkan kesimpulan yang benar. Pada zaman purba, manusia menyembah berhala, kekuatan alam seperti gunung dan matahari, atau kekuatan roh seperti jin. Semakin moderen mulailah muncul kepercayaan atas dewa-dewa, yaitu bahwa pada setiap benda/makhluk ada tuhannya masing-masing. Ada tuhan pohon, angin, monyet, tikus, dan sebagainya. Memang untuk level kesadaran spiritual ini manusia membutuhkan petunjuk wahyu, suatu yang di luar akal manusia, bahkan di luar nurani. Kecerdasan spiritual yang berdasarkan hati nurani masih bisa menyesatkan, misalnya pada kebudayaan Aztek manusia dikorbankan kepada dewa matahari melalui keyakinan yang didasarkan suara hati. Pada tingkatan tertentu, suara hati tak lagi mampu. Misalnya, mengapa kita tega menyembelih kambing? Bukankah suara hati kita miris dan menganggapnya kekejaman? Alasan kuat kita yakin bahwa menyembelih kambing itu sesuatu yang benar (walaupun suara hati memprotesnya) adalah karena tuntunan agama wahyu. Wahyu mengatakan bahwa menyembelih kambing atas nama Allah adalah sah, sedangkan memenggalnya (bukan menyembelih) atau mengatasnamakan berhala adalah sesuatu yang haram.
Pengetahuan pada level kesadaran Tauhid ini bukan sekedar pengetahuan yang didasarkan pada kesadaran spiritual, namun lebih tinggi lagi karena menjawab persoalan yang terus tak terjawab oleh kesadaran spiritual. Misalnya, apakah tuhan itu banyak? Berapa banyak? Apa sih yang diinginkan tuhan? Mengapa sih manusia diciptakan? Kemana sih kita setelah mati? Semuanya itu dijawab melalui wahyu yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul.
KETIDAKSADARAN
Ketidaksadaran memiliki 2 lingkaran : ketiaksadaran pribadi dan kolektif.
1. Ketidaksadaran Pribadi
Ketidaksadaran pribadi meliputi ingatan dan hal-hal yang tertekan. Ketidaksadaran pribadi berisi komplek (konstelasi) perasaan, pikiran, persepsi, ingatan yang terdapat dalam ketidaksadaran pribadi. Kompleks memiliki inti yang bertindak seperti magnet menarik berbagai pengalaman ke arahnya.
2. Ketidaksadaran Kolektif
Bila kita cermati, sering kita melihat sebuah peristiwa menarik! Peristiwa itu tentu akan menggundang kehadiran masa (banyak orang), baik secara harfiah berupa kehadiran fisik orang, maupun kehadiran masa yang datang hanya melalui komentar. Peristiwa menarik tersebut terlepas dari apakah peristiwa tersebut positif atau negatif tak terbedakan, hanya saja  bila dicermati lebih lanjut peristiwa buruk/negatif/kontroversialah yang menggundang kehadiran partisipan. Mereka masuk dan terlibat dalam suasana atau peristiwa yang berhasil menarik empati diri kita masuk ke dalam suasana (lebih sering terjadi di peristiwa yang mengandung  situasi  absurd) dan selanjutnya peristiwa ini akan berakhir secara perlahan dengan sendirinya, sayang biasanya tanpa solusi.
Manusia berkumpul, berkerumun, memusatkan perhatian (yaitu prristiwa menarik), selanjutnya tenggelam dalam suasana yang terciptakan. Selanjutnya, terkadang banyak orang secara tidak sadar terlibatkan dirinya dalam kejadian yang tak terkirakan. Kaum reaktif akan menanggapi, merespon, mereaksi menurut cara pandang masing-masing tetapi dalam satu kerangka menyerang pihak yang tersalahkan, apalagi pihak tersalahkan yang tidak mungkin mengelak, membela diri, bahkan dalam kekalahan mutlak sekalipun (tak perduli pihak tersalahkan telah mengakui dan meminta maaf). Awam tidak menarik diri, tetapi justru semakin menghujani dengan berbagai reaksi (sering menjadi merusak (vandalisme, menyerang!). Pada situasi ini kadang muncul pemimpin atau sekedar penggerak yang tak bertanggung jawab! Mungkinkah  mereka secara bersama-sama terjebak dalam ketidaksadaran kolektif (Unconcicious). Dalam dinamika kelompok, yaitu proses menjadinya kelompok memungkinkan proses ketidaksadaran kolektif itu terjadi. Bila dapat muncul pemimpin kharismatis positif, maka peristiwa ketidaksadaran kolektif ini dapat teredakan lebih cepat!

Memori

                                                                    Oleh : Abdul Rojib
       Dalam lingkup ilmu Psikologi, ada beberapa teori mengenai Memori yang dikemukakan oleh para ahli. Di bawah ini akan dibahas beberapa dari teori-teori tersebut.
A. Association Model (Model Asosiasi)
       Teori awal mengenai Memori dikenal sebagai Association Model (Model Asosiasi). Menurut model ini, memori merupakan hasil dari koneksi mental antara ide dengan konsep. Tokoh yang terkenal mendukung teori ini antara lain adalah Ebbinghaus yang melakukan beberapa penelitian, antara lain mengenai fungsi lupa serta savings. Grafik di bawah menunjukkan salah satu hasil penelitian yang menunjukkan tingkat retensi yang makin rendah dengan berjalannya waktu.

B. Cognitive Model (Model Kognitif)   
       Cognitive Model (Model Kognitif) mengatakan bahwa Memori merupakan bagian dari information processing. Teori ini mencoba menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga macam Memori sebagai berikut:
v  Memori Sensoris: Memori Sensoris didefinisikan sebagai ”momentary lingering of sensory information after a stimulus is removed.” Diterjemahkan secara bebas, kalimat di atas bermakna bahwa Memori Sensoris adalah informasi sensoris yang masih tersisa sesaat setelah stimulus diambil. Tidak semua informasi yang tercatat dalam Memori Sensoris akan disimpan lebih lanjut ke Memori Jangka Pendek atau Jangka Panjang, karena manusia akan melakukan proses selective attention, yaitu memilih informasi mana yang akan diproses lebih lanjut.
v  Memori Jangka Pendek: Memori Jangka Pendek disimpan lebih lama dibanding Memori Sensoris. Memori ini berisi hal-hal yang kita sadari dalam benak kita pada saat ini. Otak kita dapat melakukan beberapa proses untuk menyimpan apa yang ada di Memori Jangka Pendek ke dalam Memori Jangka Panjang, misalnya rehearsal (mengulang-ulang informasi di dalam benak kita hingga akhirnya kita mengingatnya) atau encoding (proses di mana informasi diubah bentuknya menjadi sesuatu yang mudah diingat). Salah satu contoh konkret proses encoding adalah ketika kita melakukan chunking, seperti ketika kita mengingat nomor telepon, di mana kita akan berusaha membagi-bagi sederetan angka itu menjadi beberapa potongan yang lebih mudah diingat.
v  Memori Jangka Panjang: Memori Jangka Panjang adalah informasi-informasi yang disimpan dalam ingatan kita untuk keperluan di masa yang akan datang. Ketika kita membutuhkan informasi yang sudah berada di Memori Jangka Panjang, maka kita akan melakukan proses retrieval, yaitu proses mencari dan menemukan informasi yang dibutuhkan tersebut. Proses retrieval ini bisa berupa:
Ø  Recognition: Mengenali suatu stimulus yang sudah pernah dialami sebelumnya. Misalnya dalam soal pilihan berganda, siswa hanya dituntut untuk melakukan recognition karena semua pilihan jawaban sudah diberikan. Siswa hanya perlu mengenali jawaban yang benar di antara pilihan yang ada.
Ø  Recall: Mengingat kembali informasi yang pernah disimpan di masa yang lalu. Misalnya ketika saksi mata diminta menceritakan kembali apa yang terjadi di lokasi kecelakaan, maka saksi tersebut harus melakukan proses recal.
C. Tulving’s Theory Of Multiple Memory System
       Menurut Tulving, Memori dapat dilihat sebagai suatu hirarki yang terdiri dari tiga sistem Memori:
  • Memori Prosedural: Memori mengenai bagaimana caranya melakukan sesuatu, misalnya Memori mengenai bagaimana caranya mengupas pisang lalu memakannya. Memori ini tidak hanya dimiliki manusia, melainkan dimiliki oleh semua makhluk yang mempunyai kemampuan belajar, misalnya binatang yang mengingat bagaimana caranya melakukan akrobat di sirkus.
  • Memori Semantik: Memori mengenai fakta-fakta, misalnya Memori mengenai ibukota-ibukota Negara. Kebanyakan dari Memori Semantik berbentuk verbal.
  • Memori Episodik: Memori mengenai peristiwa-peristiwa yang pernah dialami secara pribadi oleh individu di masa yang lalu. Misalnya Memori mengenai pengalaman masa kecil seseorang.
Tulving mengajukan bukti adanya sistem memori yang terpisah-pisah seperti di atas antara lain melalui:
  • Amnesia: Adanya amnesia yang berbeda-beda, misalnya penderita amnesia yang melupakan semua Memori Episodik (pengalaman masa lalu), tapi masih mengingat Memori Prosedural.
  • Penyakit Alzheimer’s yang juga hanya menyerang sistem memori tertentu saja.
CARA MENINGKATKAN MEMORI
       Para ahli masih memperdebatkan apakah Memori merupakan suatu trait (sifat) atau skill (kemampuan). Trait merupakan sesuatu yang stabil dan tidak dapat ditingkatkan, sedangkan skill merupakan sesuatu yang bisa dipelajari dan ditingkatkan.
Orang yang memiliki kemampuan Memori yang sangat tinggi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • Proses encoding yang majemuk dan bermakna.
  • Memiliki banyak cue dengan asosiasi tinggi
  • Banyak latihan
Contoh orang-orang dengan kemampuan Memori yang tinggi:
  • Steve Faloon: dapat mengingat deretan angka yang panjang
  • John Conrad: dapat mengingat pesanan makanan di restoran dengan sangat baik
  • Rajan: dapat mengingat angka phi
Bagi orang normal, ada cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan Memori, antara lain:
  • Mnemonic: Menciptakan asosiasi antar hal yang harus diingat.
  • Method of loci: Berusaha menciptakan gambaran seperti peta di benak kita dan mengasosiasikan tempat-tempat dalam peta itu dengan hal yang ingin diingat.
  • Peg word/ irama: Mengasosiasikan kata yang ingin diingat.
  • Menggunakan bayangan visual, misalnya John Conrad menggunakan bayangan visual untuk mengingat pesanan makanan dari para tamu.
  • Memahami hal yang harus diingat, dan tidak hanya menghafalkan di luar kepala. Hal yang dipahami akan diingat lebih lama daripada hafalan luar kepala.
  • Konteks ketika suatu hal sedang dipelajari sama dengan konteks ketika hal tersebut harus diingat kembali (encoding specificity)
  • Memori akan baik ketika individu merasa terlibat secara emosional, namun keterlibatan emosional tidak terlalu tinggi.
  • Menggunakan sebanyak mungkin cue ketika berusaha mengingat sesuatu.
  • Memori akan lebih baik jika sesuatu dipelajari berulang kali walaupun masing-masing sesi cukup pendek, daripada mempelajari sesuatu dalam satu sesi yang panjang. Jadi, lebih baik mempelajari sesuatu dalam 3 sesi terpisah yang masing-masing lamanya 20 menit daripada 1 sesi yang lamanya 1 jam.
  • Memori akan lebih baik jika bahan pelajaran disimpan dalam beberapa cara, misalnya mengingat suatu pelajaran baik dari segi visual maupun audio akan lebih baik daripada hanya salah satu saja.

Motif Dan Motifasi

NAMA                       : A. Rojib
NIM                           : 1101110230
KELAS                      : I A
SEMESTER              : I (Ganjil)
JUR/PRODI              :TARBIYAH/PAI

         Motivasi ialah suatu proses untuk menggalakkan sesuatu tingkah laku supaya dapat mencapai matlumat-matlumat yang tertentu. Konsep motivasi memang susah difahami kerana kesannya tidak dapat diketahui secara langsung. Seseorang guru terpaksa melibatkan proses berbagai motif kelakuan seseorang yang diukur dari segi perubahan, keinginan, keperluan dan matlamatnya.          Motivasi ada dua sumber, yaitu motivasi intrinsik atau ekstrinsik (internal dan eksternal) - Dengan ekstrinsik motivasi, Anda termotivasi oleh hadiah dari sumber eksternal - Anda akan terinspirasi oleh pengakuan bahwa anda akan mendapatkannya dari sumber eksternal. Intrinsik motivasi adalah sesuatu yang berasala dari dalam ( internal ). Anda termotivasi untuk mencapai tujuan Anda untuk keuntungan internal Anda sendiri. Contoh : membaca buku sehingga Anda bisa mendapatkan ilmu yang Anda dapatkan setelah membaca dan dari situ Anda bisa belajar sesuatu.
          Motivasi intrinsik lebih baik daripada motivasi ekstrinsik. Tapi bagi banyak menemukan motivasi intrinsik itu tidaklah mudah. Itu harus datang dari dalam dan Anda keluarkan. Tapi begitu Anda mendapatkannya, motivasi intrinsik jauh lebih kuat daripada ekstrinsik.
          Seperti kita ketahui, tingkat motivasi bisa naik dan turun. Seperti turun naiknya Iman seseorang, Ketika Anda turun, penting untuk bekerja pada diri sendiri, dengan membaca buku atau apapun yang membantu Anda, dan dapat meningkatkan motivasi Anda ke atas. Jika tidak, Anda kehilangan tujuan dalam hidup Anda dan bahkan dapat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik yaitu stress atau   depresi.

           Motivasi masih sukar diukur akan kelakuan itu tidak hanya disebabkan oleh sesuatu motif atau desakan sahaja, tetapi ada faktor-faktor yang membuatkan seseorang itu terdorong untuk berbuat sesuatu. Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau menyelakan perasaan tidak suka    itu.
           Istilah ”motif” dan ”motivasi” keduanya sukar dibedakan secara tegas. Dijelaskan bahwa motif menunjukan suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut mau bertindak melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi adalah ” pendorongan” suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
           Sesuatu organisme yang dimotivasi akan terjun dalam suatu aktivitas secara lebih giat dan lebih efisien dari pada yang tanpa dimotivasi. Motivasi hanya mempertanggungjawabkan penguatan aspek-aspek perilaku, dan bahwa mekanisme lainya (yaitu belajar, dan kognisi) berlaku untuk mengarahkan   prilaku.
           Motivasi mengandung tiga komponen pokok, yaitu menggerakan, mengarahkan, dan menopang tingkah    laku manusia:
a. Menggerakan berarti menimbulkan kekuatan pada individu, memimpin seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu. Misalnya kekuatan dalam hal ingatan, respon-respon efektif, dan kecenderungan mendapat kan kesenangan.
b. Mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku. Dengan demikian ia menyediakan suatu orientasi tujuan. Tingkah laku individu diarahkan terhadap sesuatu.
c. Untuk menjaga atau menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan arah dorongan-dorongan dan  kekuatan-kekuatan individu.
           Motifasi dapat didefinisikan sebagai kekuatan–kekuatan yang kompleks, dorongan–dorongan, kebutuhan-kebutuhan, pernyataan-pernyataan, atau mekanisme-mekanisme lainnya yang memulai dan menjaga kegiatan-kegiatan yang inginkan ke arah penciptaan tujuan-tujuan personal.
MOTIVATOR
Motivator adalah orang yang memiliki profesi atau pencaharian dari memberikan motivasi kepada orang lain. Pemberian motivasi ini biasanya melalui pelatihan (training), namun bisa juga melalui mentoring, coaching atau counselling.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), di entri motivator disebutkan memiliki dua arti:
  1. orang (perangsang) yang menyebabkan timbulnya motivasi pada orang lain untuk melaksanakan sesuatu; pendorong; penggerak.
  2. petugas yang ditunjuk untuk memberikan penerangan dan motivasi kepada calon akseptor keluarga berencana.
Dari arti dalam KBBI, tampaknya pengertian motivator seperti disebutkan pertama kali belum dimasukkan. Sebagai profesi yang tengah berkembang, tentu artinya tidak sekedar pemberi motivasi kepada akseptor keluarga berencana saja, melainkan kepada siapa pun yang membutuhkan. Hanya saja, karena ini merupakan profesi, maka ada jasa tertentu yang harus dibayarkan apabila membutuhkan motivasi dari motivator. Umumnya, pemberian motivasi dilakukan dalam bentuk pelatihan (training). Kecuali, tentu saja bagi motivator yang memiliki acara televisi sendiri, akan dapat diakses secara gratis oleh pemirsa.

Makalah Sensasi Dan Pesepsi

A.   Sensasi
Sensasi berasal dari kata “sense” yang artinya alat pengindraan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Menurut Dennis Coon, “Sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal. Simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera.”
Definisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera. Kita mengelompokannya pada tiga macam indera penerima, sesuai dengan sumber informasi. Sumber informasi boleh berasal dari dunia luar (eksternal) atau dari dalam diri (internal). Informasi dari luar diindera oleh eksteroseptor (misalnya, telinga atau mata). Informasi dari dalam diindera oleh ineroseptor (misalnya, system peredaran darah). Gerakan tubuh kita sendiri diindera oleg propriseptor (misalnya, organ vestibular).
B.   Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Sensasi adalah bagian dari persepsi. Persepsi, seperti juga sensasi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. Faktor lainnya yang memengaruhi persepsi, yakni perhatian.
Faktor-faktor Fungsional yang Menentukan Persepsi
Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal lain yang termasuk apa yang ingin kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memeberikan respons pada stimuli itu.
Kerangka Rujukan (Frame of Reference)
Sebagai kerangka rujukan. Mula-mula konsep ini berasal dari penelitian psikofisik yang berkaitan dengan persepsi objek. Dalam eksperimen psikofisik, Wever dan Zener menunjukan bahwa penilaian terhadap objek dalam hal beratnya bergantung pada rangkaian objek yang dinilainya. Dalam kegiatan komunikasi kerangka rujukan memengaruhi bagaimana memberi makna pada pesan yang diterimanya.
Faktor-faktor Struktural yang Menentukan Persepsi
Faktor-faktor structural berasal semata-mara dari sifar stimuli fisik dan ekfek-efek saraf yang ditimbulkanny pada system saraf individu. Para psikolog Gestalat, seperti Kohler, Wartheimer, dan Koffka, merumuskan prinsip-prinsip persepsi yang bersifat structural. Prinsip-prinsip ini kemundian terkenal dengan nama teori Gestalt. Menurut teori Gestalt, mempersepsi sesuatu, kita mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan. Dengan kata lain, kita tidak melihat bagian-bagiannya. Jika kia ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah; kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan
Krech dan Crutchfield merumuskan dalil persepsi, menjadi empat bagian :
1.     Dalil persepsi yang pertama : Persepsi bersifat selektif secara fungsional. Berarti objek-objek yang mendapatkan tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi
2.     Dalil persepsi yang kedua : Medan perceptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang kita terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interprestasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi.
3.     Dalil persepsi yang ketiga : Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan diperngaruhi oleh keanggotaan kelompolmua dengan efek berupa asimilasi atau kontras.
4.     Dalil persepsi yang keempat : Objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama. Dalil ini umumnya betul-betul bersifat structural dalam mengelompokkan objek-objek fisik, seperti titik, garis, atau balok.
Pada persepsi sosial, pengelompokan tidak murni structural; sebab apa yang dianggap sama atau berdekatan oleh seorang individu, tidaklah dianggap sama atau berdekatan dengan individu yang lainnya. Dalam komunikasi, dalil kesamaan dan kedekatan ini sering dipakai oleh komunikator untuk meningkatkan kredibilitasnya, atau mengakrabkan diri dengan orang-orang yang punya prestise tinggi. Jadi, kedekatan dalam ruang dan waktu menyebabkan stimuli ditangapi sebagai bagian dari struktur yang sama. Kecenderungan untuk mengelompokan stimuli berdasarkan kesamaan dan kedekatan adalah hal yang universal.

Minggu, 17 April 2011

Emosi


A. Pengertian Emosi
     Menurut Crow & Crow (1958) pengertian emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud suatu tingkah laku yang tampak.
     Emosi adalah warna afektif yang kuat dan disertai oleh perubahan-perubahan pada fisik.Pada saat terjadi emosi sering kali terjadi perubahan-perubahan pada fisik antara lain
1. Reaksi elektris pada kulit    : meningkat bila terpesona
2. Peredaran darah                  : bertambah cepat bila marah
3. Denyut jantung                   : bertambah cepat bila terkejut
4. Pernafasan                           : bernafas panjang kalau kecewa
5. Pupil mata                           : membesar bila marah
6. Liur                                     : mengering kalau takut atau tegang
7. Bulu roma                           : berdiri kalau takut
8. Pencernaan                          : mencret-mencret kalau tegang
9. Otot                                     : menegang dan bergetar saat ketakutan atau tegang
10. komposisi darah                : akan ikut berubah karena emosi yang menyebabkan kalenjar-kalenjar lebih aktif.

B. Komponen Emosi
     Emosi manusia memiliki beberapa komponen yang penting yaitu :
-Respons atau reaksi tubuh internal, terutama yang melibatkan sistem otomatik ,
misalnya : bila marah suara menjadi tinggi dan gemetar
-Keyakinan atau penilaian kognitif bahwa telah terjadi keadaan positif/negatif
-
Espresi wajah
-
Reaksi terhadap emosi , misalnya marah-marah menjadi agresi atau gembira
hingga meneteskan air mata.


GEJOLAK EMOSI ANAK
A. Karaklteristik Emosi Anak
    1. Sangat peka perasaannya.
    2. Menunjukkan gaya bercanda atau humor yang tidak lazim (sinis, tepat sasaran dalam menertawakan     sesuatu hal tapi tanpa terasa dapat menyakiti perasaan orang lain).
    3. Sangat perseptif dengan beragam bentuk emosi orang lain (peka dengan sesuatu yang tidak dirasakan oleh    orang-orang lain).
    4. Memiliki perasaan yang dalam atas sesuatu.
    5. Peka dengan adanya perubahan kecil dalam lingkungan sekitar (suara, aroma, cahaya).
    6. Pada umumnya introvert.
    7. Memandang suatu persoalan dari berbagai macam sudut pandang.
    8. Sangat terbuka dengan pengalaman atau hal-hal baru
    9. Alaminya memiliki ketulusan hati yang lebih dalam dibanding anak lain.

B. Penyebab Emosi Anak
Ada berbagai perilaku ledakan emosi, mulai dari menangis dan melolong hingga menjerit, menendang, memukul, maupun menahan nafas kuat-kuat. Bahkan anak kecil yang baik sekalipun terkadang bisa mengalami ledakan emosi yang sangat kuat. Ini adalah bagian pengembangan diri yang normal dan tidaklah perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Perlu disadari bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan kontrol diri seperti orang dewasa.
Beberapa penyebab dasar dari ledakan emosi yang sering dikenali adalah kebutuhan akan perhatian, lelah, lapar, ataupun perasaan tidak nyaman. Sebagai tambahan, ledakan emosi ini adalah akibat frustasinya si anak karena mereka tidak bisa mendapatkan sesuatu (misalnya suatu benda ataupun perhatian orangtuanya) untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Frustasi merupakan suatu bagian dari hidup mereka yang tidak bisa dihindarkan sembari mereka mempelajari bagaimana manusia, benda, dan tubuh mereka bekerja.
Penyebab lain dari ledakan emosi terjadi saat anak harus melewati suatu masa dimana kebutuhan akan otonomi meningkat. Di masa ini mereka ingin mendapatkan suatu kebebasan dan pengendalian. Sebenarnya hal ini adalah kondisi yang bagus untuk memupuk semangat berjuang, di mana seringkali anak berpikir “aku bisa mengerjakannya sendiri” atau “aku mau itu, berikan itu padaku”. Nah, saat mereka merasa bahwa mereka tidak bisa mengerjakan atau tidak bisa memperoleh apa yang mereka inginkan, maka ledakan emosi bisa terpicu.


GEJOLAK EMOSI REMAJA

A. Karakteristik Emosi Remaja
      Masa remaja secara tradisional dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, dimana pada masa itu emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kalenjar. Namun tidak semua remaja menjalani masa badai dan tekanan, namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi usaha penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru.
      Pola emosi masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang secara normal dialami adalah : cinta atau kasih sayang, gembira, amarah, takut, sedih dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
• Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun :
1. Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
2. Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
3. Kemarahan biasa terjadi
4. Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
5. Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif
• Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun :
1. “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak   menuju dewasa
2. Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
3. Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka


B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
1. Belajar dengan coba-coba
    Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan.
2. Belajar dengan cara meniru
    Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain. Anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamatinya.
3. Belajar dengan mempersamakan diri
    Anak menyamakan dirinya dengan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. Yaitu menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama.
4. Belajar melalui pengkondisian
    Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka, setelah melewati masa kanak-kanak.
5. Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
    Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.